Menghargai Karya Orang Lain Itu Penting, Maka Dari Itu Jangan Lakukan Tindakan Copy-Paste Tanpa Menyertakan Sumber Beritanya, Terimakasih:)
Showing posts with label story. Show all posts
Showing posts with label story. Show all posts
0

Capt. N U S

Saya pupus, Nus.

Saya kembali pupus.
Untuk kesekian kalinya dan sudah terjadi berulang-ulang. Sampai akhirnya saya kini jadi lelah karena perjalanan yang jauh dan panjang ini. Bosan, sudah pasti merajalela disekujur tubuh bahkan sampai lubang-lubang kecil tak kasat mata dalam diri saya.

Kali ini, saya rindu bertukar kabar dan bercerita panjang lebar. Dengan kamu.

Kita sama-sama tau, kan, Nus. Tidak ada yang bisa menghentikan saya bercerita terkecuali tatapan mata kamu yang tajam dan selalu membuat saya sadar, bahwa saya sudah terlalu banyak bicara.

Kita juga sama-sama tau, kan, Nus. Tidak ada yang bisa memberhentikan dongeang-dongeng imajinasi saya terkecuali kecupan kening punyamu, yang selalu lebih imajinatif daripada dongeng-dongen fiktif ku.

Ya ampun, Nus.. Rasanya sudah lama sekali ya, rasanya sudah asing sekali. Perbincangan kita yang selalu menjadi kutipan-kutipanku dalam menulis. Tempat-tempat kesayangan kita, pojok kamar dan speaker merah mu. Bahkan bus PMI tempat kau mendonorkan sebagian air merah dalam dirimu berikut jadi satu-satunya tempat yang ntah dengan cara apa kau dapat memaksaku untuk masuk kesana, untuk melihatmu berdarah.. Karna kau tahu betul kan Nus,bahwa darah... *esc ah aku ngeri sendiri melihatnya. Ya tapi, demi kamu pun aku mampu. Demi menemani kamu berdarah.

Nus, saya tahu kamu sudah terlanjur pergi jauh dan tidak akan pulang. Kamu sudah temukan bahagiamu yang tak kamu dapat pada saya. Jalan beriringan seharusnya saling menguatkan kan?

Dan meski kini tak beriringan pun, rasanya akan semakin kuat. Karna saya tahu kamu bahagia disana.

Jangan lupa tertawa Nus, karna berpura-pura demikian sungguh sulit. Saya sudah coba, dan rasanya menyakitkan.

Jangan lupa bahagia Nus, karna dengan demikian tawa lepasmu akan menyeruak keluar dari tempat persembunyiannya.

Nus, ntah disisi belantara mana nanti kita akan bertemu... tapi segera dan semoga itu jadi pelayaran terakhir yang kita miliki. Atau dengan kemungkinan ketidakbertemuan kita nanti pun, meski diarah yang berbeda, kamu tahu saya selalu mendukungmu, dengan cara saya, dengan gaya saya.

Selamat berlayar lagi, Nus! Ini semester baru, dan sudah sampai angka tiga, Capt.
0

SAYA ADALAH

Saya adalah negasi yang selalu kau buang jauh-jauh dari hidupmu.
Yang tidak pernah kau fikirkan,
yang keberadaannya tidak pernah terdefinisikan.

Saya adalah satu dari banyak hal yang tak jadi prioritasmu.
Tapi, satu dari sekian banyak hal yang kau jaga dengan baik.
Saya adalah asa yang kau kubur dalam-dalam.
Rindu yang kau lepeh dan kau buang jauh-jauh.
Saya adalah hal yang tak pernah kau pahami.

Saya adalah,
tulisan-tulisan ambigu yang memiliki banyak arti dalam satu diksi.

Saya adalah, pemujamu.
Yang kau ketahui namanya, yang kau mengerti gelagatnya, yang selalu ada ,eski kau tak ingin.

Saya, adalah hal-hal paling membosankan yang membuatmu tertarik.
Dan saya,
saya adalah, bilangan nol.*esc
0

Atas Ketidakinginan Mu

Aku, menyerah pada ketidakinginan mu padaku. Aku sadar betul, sebesar dan sepayah apapun aku berusaha piring yang sudah pecah tak kan bisa utuh kembali, seutuh ketika kali pertama aku memilikinya, dulu.

Aku, mulai lelah mengejarmu. Tapi tak juga ingin berhenti hanya karena lelah, karena aku tau.. sekeras dan sekuat apapun aku ingin lupa, dalam keadaan sedemikian hancurnya, aku tetap ingin berada dekat, denganmu.

Realita dalam ekspektasiku yang kelabu, aku ingin hapus semua yang ada. Yang sudah terjadi, antara kamu dan aku beberapa dekade terakhir. Tapi apa, apa yang bisa ku lakukan kini?

Haha, lucu memang. Aku mengejarmu disaat kamu sudah lagi tak ingin. Kemana saja aku dulu?

Kalimatku, haha terasa seperti membaca quotes-quotes yang sering kau baca juga kan ya?

Sesal. Untuk menunggu kesempatan kedua datang, rasanya begitu jauh, memakan waktu, kau tau betul rasanya menunggu. Melanggengkan kesempatan yang sudan hilang pun lebih bodoh kurasa.

Jadi, apa yang bisa ku lakukan? *esc

Atas ketidakinginanmu, aku hanya bisa mengumpulkan sisa-sisa kenangan yang masih tersisa dalam berbagai rupa. Hanya untuk menjadi pengingat, pengingatku padamu.

Sedang kamu? Jangan khawatir ya, bahagialah atas segala hal yang sedang kau jalani, pilih, dan raih.

Mari sama-sama mencari bahagia, dijalan kita masing-masing.

Dan untuk ini, kapan pun kamu ingin kembali. Aku, sungguh masih menunggumu pulang. Rumahku.

Kopi Candu Langgengkan Rindu

Kita berdua sama-sama tau, bahwa jarak antara masa lalu dan masa depan adalah tipis.
Yang jadi masa lalu mu, bisa jadi masa depan ku. Begitu demikian sebaliknya, bukan?

Kita sama-sama mengerti, bahwa tiada jarak yang dapat memisahkan kita terkecuali waktu.
Aku mungkin berada ditempat yang salah, tapi apakah waktu ku juga demikian salah adanya?

Kita sama-sama memahami, bahwa tidak ada hati yang tak bisa berbolak-balik.
Begitu juga dengan hatimu, tidak selamanya untuk ku. Hari ini mungkin memang iya, esok?

Apa yang kita tahu, kita mengerti, kita pahami. Nyatanya tak jua membuat kita bersatu dengan lama.
Bagiku, untuk melanggengkan sesuatu tak hanya cukup dengan bermodal tau, bermodal mengerti, dan memahami. Namun, lebih daripada sekedar itu. 

Ini soal loyalitas hati, sesuatu yang lebih dari sekedar setia belaka. Jujur saja, aku mulai muak dengan hal-hal magis berbau manis yang jadikan kita makin miris ketika tau sesuatu hal yang membuat menangis. Tak jauh aku ambil contoh untuk hal demikian, seperti hal nya kamu. *esc

Berpangku harap padamu, nyatanya membuatku merasakan pahitnya jamu dan manisnya gulali. Tapi, kenyataan tak seperti realita bung. Pada akhirnya, yang sengaja dipilih pun tak bisa memilih dan yang terjadi adalah pergi, sebuah perpisahan paling manis yang jadikan aku semakin pahit.

Kini yang tergenggam hanyalah secangkir kopi panas pahit, yang selalu jadi manis tiap aku melihat parasmu dan mendengar tawamu. Ya, tepat setelah perpisahan kita kemarin.
0

Saya - Maaf

Saya pernah sangat bersedih karena kehilangan seseorang. 
Untuk itu saya benar-benar menjaga kamu sekarang, bagaimanapun caranya saya coba lakukan.

Saya tahu masih banyak ketidaksempurnaan yang saya punya dalam hal jaga-menjaga. Saya paham betul betapa banyak kekurangan yang saya miliki, betapa saya telah melakukan banyak kesalahan, mungkin jika dihitung-hitung sudah ratusan atau bahkan berkali-kali dalam sehari saya mengucapkan kata maaf padamu, dan saya masih melakukan kesalahan yang sama?

Kamu tahu betul bagaimana diri saya dan saya sendiri pun sangat memahami bahwa saya telah memulai segalanya dengan cara yang salah.

Ketahuilah, saya merasa bodoh karena selalu melakukan kesalahan kemudian mengucapkan maaf, meski terjadi begitu seterusnya..

Tapi satu-satunya hal yang saya bisa hanya demikian adanya. 

Jika saja ada hal lebih baik yang bisa saya lakukan, saya pastikan saya akan coba untuk melakukannya. Dan jika sampai saat ini saya masih melakukan hal bodoh seperti ini, maka yang saya bisa hanyalah mengucapkan maaf..

Saya minta maaf..*esc

Mungkin, ini memang karena keterbatasan yang saya punya. 
Saya mohon, maafkanlah saya.

Karena satu-satunya hal yang saya punya dan yang membuat saya begitu serius saat ini adalah perihal menjagamu.

Ya, saya ingin menjagamu dengan baik. Lebih baik dari yang sebelumnya.

Dan jika saya belum berhasil untuk melakukan itu, apalah daya saya.. Lagi-lagi, maaf untuk itu.

Maaf saya masih sering bertindak bodoh dan membuatmu memutuskan untuk pergi.


Pesan pribadi, untukmu :
Maka biarkanlah hari ini saya mengucapkan kata itu sekali lagi, kemudian semua terserah padamu. 
Sekalipun sering kamu mendengarkannya, saya mohon untuk hari ini saja dengarkan saya lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sayang, maafkan saya atas segala kesalahan yang pernah saya buat padamu, apapun itu. Saya tahu, terlalu banyak hal bodoh yang sudah saya lakukan. Terlalu banyak kata maaf yang saya tulis dan ucapkan padamu. Mungkin kali ini tidak akan termaafkan, bahkan melalu surel ini pun kamu tidak akan merasa tersentuh dengan tulisan yang saya buat. Tapi saya tahu bagaimana rumah yang saya miliki bersikap. Saya sungguh-sungguh minta maaf, saya tidak bisa kehilangan kamu. Saya menyayangimu. -hana
0

Ketika Fajar Menyapa

Ketika esok fajar menyapa, kamu tak akan lagi memperbincangkan tentang saya. Karena kamu sudah bahagia. Dengan bahagiamu sendiri. Setelah berwindu-windu bersamaku.

Ketika saat itu tiba, kamu tak lagi akan bertanya-tanya bagaimana kabarku hari ini. Karena sudah ada yang lain, yang kabarnya paling kamu tunggu sebelum saya. Kita pastikan itu nanti.

Ketika fajar menyapa, saya tidak tahu. Tapi saya meyakini, kamu sudah akan lupa tentang siapa saya, tentang bagaimana saya, tentang siapa kita, dan bagaimana kita dulu. Kamu akan lupa sampai saat kamu mengingatnya, saya sudah tak lagi berada disitu. Karena sudah akan ada orang lain yang siap sedia menggantikan tempat saya. Mungkin lebih baik, tapi tak akan seperti saya. Kita jamin itu nanti.

Dan ketika senja kembali keperaduannya, sampai ketika fajar akan kembali menyapamu. Aku sungguh masih setia menjadi rumah yang siap kamu huni, sampai kamu butuhkan nanti, kapan pun, dan dimanapun. Hubungi aku!

Aku masih akan setia menjadi hujan yang akan basahkan hatimu ketika kamu sedang berapi-api. Karena aku tidak akan membiarkanmu terbakar sendirian.

Aku masih akan setia menjadi  gemintang yang akan jadi hiasan tidurmu ketika malam membawamu kedalam alam bawah sadar. Karena aku tidak akan membiarkanmu terlelap sendiri, kedinginan.

Aku akan pastikan, bahwa aku tetap setia menjadi apapun yang kamu butuhkan nanti. Sampai kabar kepulanganmu terdengar olehku. Kita akan lihat itu nanti.

Karena aku setia menunggu kepulanganmu, kapanpun kamu akan datang. Aku masih disini. Ketika fajar menyingsing, setelah kau pergi. –hana*esc
0

About Time

Dari mesin waktu yang tak pernah bisa kuputar kembali.
Hari ini, entah kenapa, aku merindukanmu. Merindukan waktu kita. Dalam jarak, waktu mempersempit kita yang terburu dan memperlebar jarak yang terbentang.

Aku merindukanmu pada sudut 360 derajat dan kamu masih entah dimana. Kita masih entah dimana. Dimana aku diam-diam merindukanmu dalam diam.

Tentang waktu yang tak pernah bisa kubeli denganmu. Dia terus berjalan berputar sesuai dengan porosnya tanpa kita tahu kapan ia berhenti. Terkecuali baterai usang itu sudah habis. Waktunya diganti! Kemudian dimulai lagi, dan tak pernah berhenti lagi, sampai diganti lagi. Seterusnya akan tetap begitu.

Sekiranya karena waktu tidak bisa diulang dan diputar balik, yang sekaranglah lakukan yang terbaik. - @misteeerius

Jika ini semua tentang waktu, aku tau. Aku belum bisa melakukan yang terbaik sekarang. Tapi nanti, kita akan sama-sama tau, bahwa tak hanya aku yang begitu. 

Aku menyayangimu; dalam heningnya waktu yang bisu.
0

Dari Ujung Telepon

Dari ujung telepon, setelah melewati malam yang panjang. Aku telah memutuskan untuk pergi dan tak bisa kembali. Perdebatan panjang, ya kamu dan aku berdebat panjang. Aku sudah berbeda kamu pun tau itu. Siapa yang bersikeras agar semua kembali? Kamu atau aku? Kamu. Kali ini kamu.

Dari ujung telepon kita bersua, merangkai kata demi kata. Tak lagi ada beda dan bentang. Sampai malam ini aku merubah segalanya, aku beda. Sudah berbeda. Mencoba untuk pergi dan melepaskan segalanya, yang ternyata tidak begitu denganmu.

Kamu, masih saja ingin semuanya baik-baik saja. Ingin aku kembali, ingin semuanya sama.

Berkali-kali, berkali-kali kamu katakan itu; Maaf. Dengan emoticon yang sama. Dan aku masih diam tak bergeming, kaku, keras bagai batu.

Dari ujung telepon yang kau genggam dan kuletakkan, siapa yang tak bisa ditinggal dan siapa yang ingin meninggalkan? Seraya sesak didada mengiringi kita, kami akhiri percakapan maya ini tanpa bersua.*esc
0

Aku, Kamu, Jarak-Waktu

Ini yang sedang ingin aku ceritakan pada mereka, bahwa jarak dan waktu sedang membelenggu kita dalam radius sekian meter. Andai, ya andai saja mereka dapat benar-benar memahami. Bahwa tak mudah berjalan berdampingan dengan jarak dan waktu yang terbentang jauh. Bahwa tidak mudah menciptakan jarak yang sedemikian jauh agar kita sama-sama menenangkan diri, atau malah bisa berbahagia dengan yang lain.

Aku, kamu, jarak-waktu. Empat komponen mode otomatis yang saling berkaitan tapi tak terikat oleh suatu ikatan. Karena kamu dan aku bukan sesuatu yang saling mengikat, tapi kita adalah sesuatu yang sedang di ikat. Oleh kondisi. Sekalipun tak memungkin kan untuk itu.

Jarak-waktu, jika ada satu-satunya hal maka kini aku akan mengucap dua-duanya hal. Bukan karena mereka yang tak bisa ku hitung satu-satu, tapi karena keduanya tak bisa dipisahkan menjadi satu per satu. Keduanya berkaitan dan bersama. Tapi tidak bersatu. Sekali lagi, mereka bersama tapi tak bersatu.

Kita, bersama? Memang. Tapi tak pernah bersatu.

Aku, kamu, jarak-waktu. Siklus yang membuat kita berputar tapi tak pernah berbalik arah. Yang membuat kita terus maju, tapi tak pernah bisa kembali. Karena walaupun jarak bisa kutempuh, namun aku tak berdaya mengembalikan sang waktu.

Aku, kamu, jarak-waktu. Semoga kita bisa bersatu tak hanya bersama.*esc
0

Kita yang Tak Urung Memperjelas

Kamu benar-benar paham apa yang sedang aku rasakan kini, sebenarnya. Tapi diam ternyata tetap jadi prioritas utama mu. Kamu kira dengan hanya memperhatikan dan memikirkan ku dari kejauhan saja cukup mengobati semua? Ya, cukup memang. Untukmu!

Kamu yakin kamu benar-benar tau tentang apa yang kurasakan kini? Kamu yakin benar soal apa yang kamu pikirkan sekarang? Memang kamu sudah benar?

Diam emas mu itu seperti besi berkarat yang sudah mengarat bertahun-tahun bagiku. Meski cuma sebentar, diam emas mu itu nyatanya juga tetap mengarat. Kamu juga paham hal itu tidak?

Beberapa kata yang kau kirim singkat melalui sebuah perantara pun akhirnya juga tak cukup membuat ku yakin, tentang apa, bagaimana, kenapa, mengapa, siapa kita sekarang. Aku ini memang terkadang tak jelas, kamu pun juga begitu. Tapi setidaknya, untuk mencintai hal-hal yang jelas lebih meyakinkan untukku. Sekalipun hal yang sementara itu lebih menyenangkan, karena selalu bisa membuat rindu. Rindu?

Ku kira cuma aku yang merasakannya, kiranya begitu. Ternyata kamu juga sama, belakangan ini. Tapi kita sama-sama diam dalam tatapan. Sebatas tatapan.

Untuk segala yang tak tersampaikan hanya dengan sebuah tatapan, aku cukup memikirkanmu tiap harinya dan menjemputmu dalam tiap do'a ku pada-Nya. Tak melulu kusebut, tapi tiap kuingat aku tak sadar akan menyebutmu. Kini sekarang tinggal bagaimana denganmu? Masih tak cukupkah keyakinanmu atau kamu benar-benar tak cukup serius untuk ini?

Jangan terlalu serius ah! Kita sama-sama masih sangat muda untuk sesuatu yang sangat serius. Tapi setidaknya, untuk membagun sesuatu yang besar dimasa depan, untuk ini kenapa tidak? Santai bung, tapi tetap serius ya.

Aku mungkin tidak akan menunggumu selama yang kau kira, kamu pun juga tak akan melulu menghampiriku selama yang kau bisa. Tapi selama kita masih sama-sama mampu, selagi masih sama-sama memiliki waktu, setidaknya tak mampukah untuk sekedar mencoba?

Selamat malam, untuk kamu yang suka diam dalam emas yang memperhatikanku diam-diam.*esc
0

Kamu Aja Titik

Aku sudah mulai lelah berkutat dengan beribu koma yang selama ini ada, karena diam-diam mencintaimu. Aku sudah gerah dan hampir mati kepanasan karena tak sedikitpun udara segar kau pernah berikan untuk ku, bahkan untuk sekedar menghela. Aku sudah tidak tahan menunggu sambil menahan perasaan yang ada. Yang terjadi biarlah terjadi. Yang sudah biarlah sudah.

Kini, aku hanya mau kamu saja titik. Tak lagi menggunakan koma, maupun tanda tanya? Sekalipun aku masih suka bertanya-tanya? Dan meng-koma-kan yang terjadi, aku hanya bisa terus mencoba menyudahi dan men-titik-an segalanya yang sudah ada.

Kamu tau, perang selalu membawa kehancuran bagi diri seseorang. Apalagi perang batin dan perasaan. Kamu sudah pernah tau rasanya, kamu. Karena dulu kamu pun juga berperang di jalan yang sama. Tapi itu tak lagi terjadi, tak lagi terjadi karena aku yang sedang berperang. Menjadi panglima tapi pernah tau kemana arah dan tujuan perang ini sebenarnya. Bodoh!

Aku cuma mau kamu. Kamu mengerti. Kamu mendengar. Kamu memahami. Kamu mencoba memiliki. Kamu aja titik. Nggak ada koma, nggak lagi tanda tanya, nggak juga bertanya-tanya.(esc)
0

Karena Semuanya Telah Berubah

Hai?
Halo?
Assalamu'alaikum?
Ah! Rasanya sapaan ini tak lagi berguna ketika aku mengumandangkannya padamu. Tidak lagi berguna! Karena kamu sendiri juga tidak pernah mendengarnya. Tidak sekalipun, karena nyatanya aku pun juga tak pernah mengucapkannya.

Aku yang lagi-lagi membuat hal bodoh menjadi serius untuk diperbincangkan ini, lagi dan lagi tak pernah bisa untuk memulai percakapan kita. Dengan baik. Padahal kamu dan aku tau, bahwa setelah sekian lama kita kenal harusnya tak ada lagi yang namanya canggung! Tapi aku membuat semuanya berbeda.

Semuanya berubah ketika negara api mereda menjadi air.. Tak ada lagi percakapan yang benar-benar membuatku merasakan adanya kehadiranmu. Mungkin begitu juga denganmu.

Kerena semuanya telah berubah, semuanya. Semuanya kecuali hati.

Ku kira kita sama-sama berfikir bahwa seiring dengan berjalannya waktu semua hal yang ada di dunia ini bisa berubah. Kapanpun, dimanapun, siapapun, dan dengan berbagai macam cara semua orang bisa berubah setiap detiknya. Yakan?

Ketahuilah, aku juga merasa demikian. Tidak hanya denganmu, tapi juga dengan yang lainnya. Aku merasa bahwa seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia semua menjadi berubah.. Atau akan berubah. Tapi kita bisa apa? Bisa apa kita?!

Semua yang ada, semua yang hidup, semua yang ada di dunia.. Semuanya memang harus terjadi seperti ini. Sebagaimana mestinya Tuhan menggariskan semuanya.

Tidak ada patung yang tidak bisa berpindah tempatnya. Begitu juga tidak ada burung yang selalu terbang mengangkasa.

Untuk semua perubahan itu, terkadang aku menyesalinya. Sangat menyesal. Tapi aku bisa apa? Kecuali tetap berjalan pada rutenya. Mengambil keputusan, menjalani kehidupan seperti biasa atau lebih tepatnya mencoba menjalani kehidupan seperti biasa dan kemuadian menghadapi resiko yang ada. Meski terkadang aku juga bersembunyi dari resiko-resiko yang memburu. Itu semua karena aku tau, penyesalan yang sangat dalam pun tak bisa membuatku kembali ke masa lalu.

Aku, kamu, dia, kalian, mereka, siapa pun itu tidak bisa kembali ke masa lalu, Sayang.*esc
0

Segenap Jiwa -- Seluruh Rasa


"Ada yang aku janjikan ketika kamu tak lagi disini. Yaitu mencoba ikhlas karena kamu sekarang disana. Sadar betul bahwa kita sama-sama sedang berjuang meraih mimpi, membuatku bekerja keras untuk menunda rindu yang ada." #hana
 
      Kamu pernah berkata padaku, bahwa kita harus bisa menjadikan rindu yang kita punya ini menjadi hal-hal positive yang membahagiakan bagi dirimu sendiri maupun untuk ku. Karena kamu sadar betul bahwa jarak sudah memisahkan kita. Ini demi mimpi yang sudah ada didepan mata.

        Karena itu, kamu membuatku lebih belajar tentang mengikhlaskan kerinduan. Yang kadang suka datang mendera dan menerpa hati. Sekuat tenaga, aku menempa dan menguji nyaliku sendiri. Aku menantang diriku untuk bisa terbiasa tanpamu. Perlahan, namun aku pastikan aku bisa melaluinya tanpamu.

          Sayangnya, semua itu selalu terasa menyakitkan ketika rindu tak lagi bisa kubendung. Bendungan yang sedianya kokoh berdiri diatas melingkari hatiku, nyatanya juga bisa hancur berkeping-keping ketika aku tak menemui sosok sepertimu disekitarku. Mereka! Menjadi penyemangat yang membuatku sedikit melupakan tentangmu.

         Aku merindukanmu, seringkali. Aku sangat merindukanmu, terkadang. Aku betul-betul merindukanmu, selalu. Tapi aku bisa apa kecuali mengamini setiap do'amu dari jauh? Dan mendo'akanmu dari ujung sajadah ku...

        Waktu, yang nanti akan membuktikan. Waktu yang nanti akan mempertemukan. Waktu pula yang nanti akan memisahkan. Aku sadar betul bahwa hanya waktu yang jaraknya tak bisa kurengkuh, selain kamu. Aku sadar betul, bahwa hanya waktu yang menjadi batas pemisah antara kita sekarang, selain jarak. Dan aku sadar betul bahwa waktu ku kini tak akan terbuang sia-sia hanya dengan merindukanmu dari sudut kamarku yang bisu.
        Karena dengan kekuatan rindu yang kupunya untukmu, aku akan membuatnya begitu berguna. Sangat berguna, sebelum aku... Bertemu denganmu, suatu ketika. Ditempat manapun yang Ia kehendaki.*esc
0

Jika Memang Dia


Tuhan, kalau ini memang benar. Semoga saja dia bisa membuatku kembali belajar tentang rasa yang luar biasa ini. Untuk dia dan untukku. 

Tuhan, jika ini benar. Semoga saja rasa luar biasa yang Kau titipkan ini bisa membuatku jauh lebih baik. Apalagi karena aku bersama dia, sekarang.

Tuhan, jika ini memang benar adanya begini. Aku ingin ucapkan terimakasih pada-Mu karena telah menitipkan rasa yang luar biasa padaku, lagi. 

-------------------------------------------- #hana -----------------------------------------------------

Tuhan, aku tidak tau apa yang sedang kurasakan sekarang. Entah benar jatuh cinta, atau memang hanya perasaan sesaat. Aku takut Tuhan, aku takut. Jika ini semua hanya perasaan semu. Yang tidak mungkin jadi kenyataan. Setidaknya untuk saat ini, begitulah adanya.

Tuhan, aku tidak tau apakah dia orang yang benar bisa membuatku tertawa setiap harinya? Yang bisa menyangga sedihku, dan merubah hari-hariku esok dan esoknya lagi? Aku tidak tau, aku tidak tau.

Tuhan, jika memang benar dia yang terbaik hari ini, esok hari, dan esoknya lagi untukku. Aku hanya ingin dia mengajariku untuk menjadi yang dia cinta. Aku ingin menjadi sosok yang ia cintai, agar aku juga bisa memiliki rasa yang luar biasa ini, untukku dan untuknya.

Tuhan, aku tidak meminta banyak dari-Mu. Aku hanya inginkan seseorang yang bisa mengerti diriku, yang bisa menjadi cahaya dikala gelap menyelimutiku, menjadi petunjuk jalanku yang berliku, dan aku rasa dia lah orangnya. Mungkin hanya dia yang bisa, yang tau, dan mengerti. Aku inginkan dia, tapi aku tidak tau apakah aku juga butuhkan dia? Seluruh keraguan itu... Masih menyelimutiku. Bantu aku Tuhan, apabila memang dia yang Kau persiapkan untukku selama ini, tolong bantu aku menuju jalannya dan buat dia menuju jalanku.*esc
0

KITA itu ADA kok!

Pernah aku berkata bahwa "Tidak pernah ada kita". Yang ada cuman aku, kamu, dan dia. Udah gitu aja? Iya, nyatanya memang begitu saja. Aku tau seketika setelah aku mengatakan itu kamu sungguh berfikir keras. Amat keras. Mungkin kerasnya melebihi dinding batu bata yang disusun dengan kuat dan kokoh. Mungkin loh ya, mungkin.

Aku tau sempat kalimat itu meyakitimu. Walau sedikit. Walau kamu berkata "tidak, aku tidak papa". Atau "aku ikhlas kok" kemudian tersenyum penuh arti.. Tapi aku tau, perasaan itu... Hati itu, pasti tersakiti. Walaupun hanya secuil. Akuilah! Mata itu berbicara dengan jelas dengan ku kala itu. Sorot mata yang kau punya... Sama sekali tidak bisa berbohong. Dia mengatakan yang sejujurnya padaku saat itu juga, seketika setelah kalimat itu terlontar.

Maaf. Aku meminta maaf untuk momen kala itu. Aku hanya bisa mengakatan maaf untuk mu saat ini. Hanya itu saja. Karena aku begitu bodoh, berkata sebelum berfikir. Berkata sebelum menimbang perasaan yang kau miliki. Berkata tanpa merasakan apa yang sebenarnya. Maaf. Sekali lagi maaf. Sungguh aku tidak bermaksud untuk itu. Tapi jika memang begitu yang terjadi, hukum aku sesuka yang kamu mau. Hukum aku! Karena aku, pantas dapatkan itu. Aku, pantas mendapatkannya.

Dari palung hatiku yang paling dalam, sungguh aku tidak benar-benar mengatakan itu dengan hati. Semoga saja kau juga tau itu. Sungguh, aku tidak benar-benar berfikir jernih kala itu. Pikiranku keruh, sampai tak dapat terlihat celah cahaya yang coba masuk mencerahi pikiranku. Entah sebegitu keruhnya kah hati dan pikiranku saat itu? Atau memang aku yang bodoh.

"Kita" itu ada kok! Ada. Meski tak selalu sempurna. Meski tak sesempurna kemarin. Tapi "kita" itu ada. Ada, meski kehadirannya kadang terabaikan dan terungsikan. Tapi "kita" itu memang benar ada. Ada untuk saling melengkapi, mengingatkan, membahagiakan, bahkan untuk saling menghapus air mata satu sama lain. Aku percaya. Sesalah paham apa pun kita kemarin, esok segala yang salah itu bisa membuat kita jadi lebih baik. Jauh lebih baik. Dan mungkin amat sangat baik. Semoga saja.

Terimakasih, untuk apa pun yang sudah pernah kalian berikan. Untuk apa pun yang sudah pernah kalian ajarkan. Untuk semuanya, apa pun itu yang kalian berikan dan kalian ajarkan padaku.. Sekarang sudah membuat diriku jadi lebih baik. Setidaknya, lebih baik secara perlahan. Terimakasih banyak, aku sayang kalian. ~ #hana *esc
0

Sebelas

Mungkin tidak semuanya bisa selalu ada. Tapi yang jelas
dimana pun kalian berada, hati dan pikiran kita
InsyaAllah akan selalu terpaut satu sama lain. #hana

Hari demi hari yang sudah kita lewati bersama, kebersamaan yang terajut perlahan namun pasti, canda-tawa yang membahana dirumah kita, bahkan tangis-duka yang menyerbak meraung digubuk kecil itu. Kami membangunnya mulai dari nol. Percayalah ini terasa sulit, sungguh sulit. Menyatukan sebelas pemikiran yang berbeda dalam satu wadah yang sama.

Kami mengabaikan seruan serdadu jendral yang menyuruh kami untuk pergi segera dari gubuk kecil itu, kami tetap tinggal disini! Ini rumah kita! Bukankah seharusnya rumah itu dirawat dan dihuni setiap saat? Bukan ditinggal dan dibiarkan begitu saja? Mana perjuanganmu!? Mana?

Kita, kamu dan aku sama-sama mencintai bendera kebangsaan ini. Kita sama-sama cinta. Tapi cinta yang sama tak membuat kadar perjuangan yang diberikan pun sama juga. Bukankah ini tidak adil? Life is unfair.

Tidak perlu banyak kata lagi yang harus dituangkan, aku hanya ingin kita bisa bersatu sama seperti mereka yang terdahulu. Bersatu untuk berjuang. Bersatu menjadi pelurus. Bersatu meneruskan ukhuwah. Bersatu membangun rumah kecil yang kumuh dan merubahnya menjadi istana megah nan agung. Demi kejayaan yang kita tumpu bersama, aku mencintai kalian karena Allah. Bukankah ini sudah adil? Berjuanglah juga karena kita sudah berada dijalan yang sama.
*esc

Rindu Menunggu Mu Pulang

   Ketika rindu memutuskan untuk datang kembali. Siap tidak siap aku harus menerima dan membukakan pintu untuknya. Tidak ada pilihan lain selain "Iya". Karena aku, masih saja membuka diri dan membiarkan diriku dibelenggu dalam lingkaran kehidupan mu. Aku tidak ingin sedikit pun mengurangi jumlah perasaan ini, apalagi menghilangkannya. Karena belum ada pemain sebaik kamu yang pantas mendapatkan peran sepenting ini untuk drama hidupku kelak. Belum ada, bahkan hingga saat ini.

   Ketika rindu memang benar-benar datang untuk kembali. Dia sudah datang dan kembali pulang. Dia tau kemana ia harus pulang. Padaku. Itu jawabannya. Tapi mengapa hanya rindu saja yang setia datang dan menyerbu hati ini? Kenapa si tuan pemilik rindu itu sendiri tak kunjung pulang? Apa dia lupa kemana ia bisa pulang dan beristirahat dalam peraduannya dengan tenang? Apa ia hanya mengizinkan sang rindu saja untuk pulang? Tanpa membawakan dirinya sendiri untuk bertemu denganku dan mengatakan hal yang sama?

   Kamu yang aku rindukan nyatanya juga masih berkutat dengan dia yang entah merindukan mu juga atau tidak. Bukan kah terlihat bodoh tatkala kamu merindukan seseorang dan kemudian orang tersebut merindukan orang lain yang tidak merindukan dia? Hidup ini terlihat berputar pada rotasinya, tapi sayangnya kamu tidak lagi berputar kembali padaku. Kamu merindukan dia, tapi tidak sebesar aku merindukan kamu. Dan dia, nyatanya tidak memiliki rindu yang sama. Bukan kah kita sama-sama memiliki rindu? Lantas kenapa kamu tidak kembali padaku saja? Dan menuntaskan rindu yang sajaknya tidak pernah tersampaikan padanya.   

   Dan ketika rindu usai mencabik-cabik perasaan ini lagi. Kamu kemana? Masih tetap saja berjalan dirutemu mengikuti dia tanpa mau dan perduli untuk menoleh kebelakang dan melihat aku. Itu kan alasan mu untuk tak pulang kali ini? Karena dia belum mampu kau dapatkan dan kau buat kembali padamu. Aku tau kau mengikhlaskan nya pergi dan berharap dia bahagia. Bukan kah aku juga begitu? Aku berharap kau selalu bahagia, namun ... Satu yang belum bisa. Aku belum mengihkhlaskan mu untuk pergi. Karena aku masih menunggu mu untuk pulang dan membawa rindu yang sedianya masih ada dan tersimpan untuk ku. Aku menunggu mu pulang, sayang.*esc
0

Tiga Paragraf


" Bukan dia yang selalu ada disampingmu, bukan dia yang selalu mengerti tangis dan tawamu, bukan dia yang sudah bersamamu sekian tahun lamanya. Tapi, seseorang yang baru saja bersama mu, mencoba mengerti siapa kamu, dan coba ajarkan mu beberapa hal yang juga ia tau; Aku. " ~ #hana
   
    Aku tidak mengajarkan mu dengan kekerasan. Tidak dengan kalimat yang keras. Tidak dengan sikap yang keras. Dan tidak dengan sifat yang keras pula. Karena aku tau, kekerasan tidak akan mengajarkan mu apa pun. Kekerasan tidak akan membuat mu belajar tentang apa pun. Kekerasan tidak akan menghasilkan apa pun untuk mu. Aku tau! Aku tau! Karena kekerasan yang juga mengajarkan ku tentang semua hal yang tidak tertulis dalam buku. Sekali pun itu adalah buku kehidupan.

     Dengan diam dan berpura-pura tak perduli, rasanya sudah cukup buatku untuk mengajarkan mu tentang adanya materi yang mungkin tak akan pernah kau dapat ketika kau membuka lembaran-lembaran tipis bertintakan hitam itu. Diam dan berpura-pura tidak perduli, hanya sebatas itu aku mengajarkanmu tentang betapa kerasnya hidup ini. Tidak dengan kekerasan, tidak dengan sesuatu yang harus ku hunuskan ke badanmu! Hanya dengan diam dan berpura-pura tidak perduli.

  Aku tau diam ku sudah cukup menyiksamu, aku juga tau ketidakperdulian ku juga sudah cukup menyakitimu. Karena aku tau hanya dengan dua hal itu saja, aku sudah mengajarkan mu tentang banyak hal. Mengertilah! Ini semua bukan hanya tentang keegoisan, labilnya kamu, pengertiannya kamu, saling memahaminya kita, menerimanya kamu tentang aku, dan banyak lagi yang mungkin tidak akan muat diketik oleh keyboard mungilku ini. Tapi ini tentang semua hal yang ada disekeliling kita. Hanya itu? Tidak! Diam dan kepura-puraan ku bukan hanya sebatas memberikan pelajaran, tapi juga karena aku sayang kamu. Iya, aku mulai menyayangi kamu tepatnya. Maaf jika diam dan kepura-puraanku sempat menyakitimu. Tapi aku hanya mau kamu tau, aku menyayangimu. ~ #hana *esc
0

Kamu yang Ingkar

Kamu kan yang ingkar!
Ketika kamu pernah berkata takut jika aku pergi meninggalkan mu sama seperti ketika aku pergi menginggalkan yang lain. Dan sekarang, kamu kan yang ingkar? Kamu yang sekarang, perlahan pergi menjauh. Berjarak. Renggang. Dan memiliki batas.

Mungkin aku terlalu perasa, mungkin. Mungkin aku terlalu berlebihan menanggapinya, mungkin. Mungkin aku juga terlalu bersikap selemah ini, mungkin. Tapi yang aku lihat adalah yang menjadi penilaianku, salahkah jika ini terjadi? Salahkah jika aku mulai ragu?

Satu-satunya hal yang kupercaya hingga kini adalah ketika aku melihatmu masih bersikap menyayangi ku, walau sedikit. Tapi aku tau yang sedikit itu jauh lebih tulus. Aku percaya kamu, ketahuilah itu!

Bagaimana tidak jika setiap kisah yang ku punya telah ku bagi denganmu? Bagaimana tidak jika setiap kisah yang kau punya telah kau bagi denganku? Bagaimana tidak jika setiap tangismu sudah pernah kudengar dan setiap keluh ku sudah pernah kau dengar? Bagaimana tidak jika aku merasa sesayang itu dirimu padaku? Bagaimana tidak jika aku bisa sepercaya ini?! Dan kamu telah ingkar! Kamu yang ingkar!

Ketakutan mu dulu, nyatanya malah terjadi padaku. Ketakutan mu dulu kini menjadi momok bagiku. Ketakutan mu dulu yang pernah kau utarakan padaku, kini menjadi bomerang. Bukan untukmu, tapi untukku. Aku terkena libasan parit yang kau ayunkan sendiri. Aku terkena!

Kecewa? Iya, pasti. Sedih? Tentu saja. Hal ini membuatku marah? Sempat terjadi. Dan aku mulai tidak perduli denganmu? Iya, perlahan ku lakukan itu.

Aku sudah melakukannya, sudah ku lakukan berbagai cara. Tapi kecewaku, sedihku, marahku, ketidak perdulianku... Tidak jauh lebih besar dari sayangku. Aku sayang kamu! Tapi apa iya kamu juga begitu? Apa iya? Bukan kah kamu sudah ingkar?

Aku tidak menyalahkan mu untuk ini, aku tidak.. Karena mungkin yang disana memang jauh lebih baik dariku. Karena mungkin yang disana memang jauh lebih sempurna bagimu dibanding aku. Karena mungkin yang disana bisa jauh melengkapi mu ketimbang aku. Karena mungkin yang disana bisa jauh menemanimu, mendengarkanmu, dan selalu ada denganmu dibanding aku.

Tapi ingatlah, yang disana itu.. Yang baru kau kenal itu.. Tidak jauh lebih baik ketika dia belum mendengar semua ceritamu. Tidak jauh lebih baik ketika dia belum mendengar segala bentuk tangismu. Dan tidak jauh lebih baik ketika dia, belum bagitu paham akan dirimu. Tidak jauh lebih baik, tidak sebaik aku. Setidaknya, itu yang kurasakan. Kamu yang ingkar nyatanya juga tidak membuatku berhenti kemudian berpaling pada yang lain. Kamu!*esc
0

Aku Sayang Kamu!

♥♥♥♥♥♥
Aku sayang kamu! Setidaknya... Itu adalah satu-satunya kalimat yang bisa kuteriakkan ketika pertama kali melihatmu lagi. Iya, aku berteriak! Di dalam hati, maksudku.

Ketika aku melihatmu lagi, aku tau bahwa yang berjalan mendekat itu adalah kamu. Aku tau! Meski aku hanya melihatmu sekilas. Ya Tuhaaaaaan... Aku begitu paham dengan caramu berjalan. Aku begitu hafal dengan gesture tubuh itu. Aku begitu...

Ketika kursi itu telah berpenghuni.... Aku canggung! Bahkan untuk melihat penghuni bangku kosong itu saja aku tidak berani. Apalagi berbicara dengannya. Berbicara dengan dia yang sudah lama tak berada disitu, yang kini telah kembali ketempat yang sedianya dulu sering ia singgahi. Tuhan, lidah ku kelu... Aku tak bisa berucap apapun.

Mungkin... Pandangan ini masih terarah padanya, meskipun mencuri-curi. Tapi parasnya yang menawan membuat lidah ini tetap saja tak bisa tergerak. Aku tak bisa lepas dari pesonanya.

Kini pikiran dan perasaanku sedang berperang. Mereka berperang untuk apa yang harus ku lakukan kini!? Haruskah aku mendekat, atau hanya duduk diam menjadi bayangan pesonanya?

Kamu yang aku perjuangkan, sendirian. Nyatanya juga masih saja tidak menghiraukan ku. Masih saja seperti kemarin. Bersikeras memperjuangkan dia, yang nyatanya tak pernah kau dapat!

Kamu yang aku perjuangkan... Nyatanya masih dimiliki hatinya oleh yang lain. Dimiliki, tanpa pernah merasa memiliki.

Lantas, kapan tiba waktu ku untuk kau perjuangkan? Kapan?!

Aku hanya lelah terus memperjuangkan kamu, sendirian. Sementara kamu? Masih sibuk memperjuangkan yang lain. Dan sialnya untuk ku, hingga kini aku dengan segala perasaan yang sia-sia dan tak terbalaskan ini belum juga bisa berhenti untuk menggantungkan pengharapanku padamu. Meski aku tau dan aku paham, untuk ini semua aku membayarnya dengan harga yang mahal. Dengan merasakan sakit yang berkali-kali datang menghujam nadirku.

Untuk kamu yang sampai saat ini dengan sengaja masih kuperjuangkan hatinya....
"Aku sayang kamu, entah sampai kapan dan berapa lama lagi rasa ini masih ada. Satu-satunya hal yang pasti yang kau berikan hari ini adalah sebuah pengharapan. Entah bagaimana dengan esok, dan seterusnya. Dan satu-satunya hal yang jelas yang bisa kurengkuh hari ini adalah perasaan... Dimana perasaanku selalu berkata, aku menyayangimu!" - #hana *esc

Pembaca

Pembaca Setia

Back to Top